PROKAL.COTANJUNG SELOR – Tahun ini, jumlah penduduk miskin di Kalimantan Utara (Kaltara) yang tercatat di Dinas Sosial (Dinsos) Kaltara diproyeksikan hanya 7 persen atau sekitar 50 ribu jiwa dari total penduduk sekitar 724 ribu jiwa.

Namun, tingkat kemiskinan di provinsi termuda Indonesia ini tidak seperti di Pulau Jawa yang benar-benar untuk makan saja sangat susah. Di Kaltara, sebagian yang masuk kategori penduduk miskin itu masih mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kepala Dinsos Kaltara, Sugiono mengatakan, jika dihitung-hitung sesuai dengan program yang telah diberikan oleh pemerintah, dari sekitar 50 ribu jiwa penduduk miskin di Kaltara, kemungkinan hanya sekitar 14 ribu jiwa yang benar-benar miskin.

“Selebihnya (sekitar 36 ribu jiwa, Red) itu memang masih miskin, tapi mereka masih berpotensi besar bisa terlepas atau mengentaskan kemiskinannya,” ujar Sugiono kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor belum lama ini.

Saat ini, sudah cukup banyak program untuk meminimalisir kemiskinan penduduk di Kaltara. Di antaranya Program Keluarga Harapan (PKH), Kelompok Usaha Bersama (KUBe), dan sejumlah program keterampilan lainnya.

Bahkan, tidak hanya dari Dinsos, program pemerintah daerah juga bersumber dari organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Seperti Dinas Pertanian (Dispertan), Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) dan OPD lainnya.

“Dari sekitar 7 persen penduduk miskin itu sudah dibantu melalui program-program ini. Khusus untuk penduduk yang dibantu melalui PKH sebanyak 14.656 ribu jiwa. Selebihnya terbagi di beberapa program lainnya,” kata Sugiono.

Saat terbentuknya Dinsos tahun 2017 lalu, jumlah penduduk miskin Kaltara tercatat sekitar 10 persen. Setelah berjalan setahun, mengalami penurunan hingga menjadi 7 persen. Artinya, upaya pengentasan penduduk miskin di Kaltara sudah cukup baik. “Angka kemiskinan nasional 9,6 persen. Artinya kita masih baik, karena berada di bawah angka nasional,” sebutnya.

Melihat perkembangan tersebut, Dinsos menargetkan ada penurunan jumlah penduduk miskin dengan jumlah yang cukup signifikan. Bahkan, di tahun 2021 mendatang, penduduk miskin Kaltara ditargetkan berada di angka dua sampai tiga persen. “Apalagi peluang kerja di Kaltara ini cukup banyak. Tinggal kemauan dari masyarakat saja lagi, apakah mau bekerja atau tidak,” sebutnya.

Pastinya, saat ini dapat dilihat di lapangan, tidak ada gelandangan yang meminta-minta di jalan. Jikapun ada, paling orang dari luar Kaltara. Sebaiknya, para gelandangan itu dicek KTP-nya, jika berasal dari luar Kaltara langsung ditindak sesuai prosedur. (iwk/eza)