PROKAL.CORATUSAN Wanita Tuna Susila (WTS) di Kaltara akan dipulangkan Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Utara. WTS tersebut tersebar di tiga lokalisasi, yakni Nunukan, Tarakan Utara dan Tarakan Timur.

Pemulangan tersebut sesuai dengan instruksi Gubernur Nomor 1 Tahun 2018 mengenai Penutupan Lokalisasi Prostitusi di Provinsi Kaltara.

Kepala Seksi (Kasi) Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kaltara Martina mengungkapkan, pihaknya menggelontorkan anggaran sebesar Rp. 100 juta yang berasal dari Anggaran Pedapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai biaya transportasi WTS yang akan dipulangkan. Biaya transportasi tersebut belum termasuk uang saku. “Untuk uang saku sendiri, Rp 140 ribu perhari. Artinya, itu uang saku mereka selama perjalanan pulang,” ungkapnya kepada Bulungan Post, kemarin (5/9).

Saat ini, yang terdata di Dinsos Kaltara hanya 3 lokalisasi. Dengan jumlah WTS mencapai 139 orang. (Selengkapnya lihat grafis)

Namun, setelah pemuktahiran data, ada WTS dari Nunukan yang ternyata sudah pulang. Untuk kepastian jumlahnya, Dinsos Kaltara menunggu Dinsos Kabupaten Nunukan dan juga Tarakan.

Kendala lain yang dihadapi, untuk memulangkan WTS ini ialah, ada yang tidak berkenan kembali ke kampung halaman.

“Ada beberapa versi kenapa mereka sampai menjadi WTS. Ada yang ditawari kerja di restoran dan ternyata dijadikan WTS. Kemudian akibat terjerumus, dan sudah malu untuk pulang akhirnya mereka meneruskan profesi tersebut,” jelasnya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Kaltara) Kaltara Sugiono menjelaskan, sejauh ini untuk penutupan lokalisasi di Kabupaten Nunukan telah siap. Meskipun sempat ada penundaan penutupan dengan alasan menunggu kesiapan Kota Tarakan untuk dilakukan penutupan lokalisasi.

Kata dia, penutupan lokalisasi di Nunukan nantinya bersamaan dengan penutupan lokalisasi di Tarakan. Saat ini untuk Tarakan masih dalam proses diterbitkannya Surat Keputusan (SK) pembuatan tim. Dinsos Kaltara juga sempat mendesak agar lokalisasi di dua daerah tersebut ditutup secara bersamaan.

“Memang kita mendesak. Tetapi di Tarakan beralasan masih dalam masa pilkada. Pilkada sudah selesai dan Pemkot Tarakan sudah dua kali rapat untuk pembentukan tim berdasarkan Surat Keputusan (SK). Tertundanya untuk penutupan lokalisasi di Nunukan bukan karena ada masalah lain, melainkan menunggu di Tarakan,” jelasnya

Ia menegaskan, jika masih ada lokalisasi ditemukan beroperasi, pihaknya akan melakukan penutupan sesuai instruksi yang ada. Begitu juga dengan WTS yang masih ditemukan di Kaltara, pihaknya akan tegas mengambil langkah untuk segera dipulangkan.

“Lokalisasi ini adalah tempat penyakit, berkelahi dan sebagainya. Untuk apa juga sumber yang tidak bagus diperlihara. 2019 mendatang Indonesia dicanangkan bebas dari tempat lokalisasi. Kalaupun ada itu berarti liar,” tutupnya. (*/fai/rio)